Trading Mistakes

1. Losing your cool
2. Trying to trade too many markets
3. Trading Greedy
4. Not using enough stop orders
5. Reversing your position
6. Not doing your homework

Winning Traders vs Losing Traders

There are only two types of traders - winners and losers. Most traders are losers. In fact government studies of traders show that between 90 and 95% end up losing their money.

What are the differences between the winners and the losers? Here are some of them:

Mindset

Mindset is the primary definer of winners and losers. Mindset encompasses independence, decisiveness, ability to handle both success and failure and responsibility for trading results.

The successful trader controls their mindset and attitude, transcending greed and fear, replacing this with the enjoyment of the challenge of trading. They are at peace with themselves, and have resolved internal conflicts.

Losing traders don't have this mental edge. They follow the herd rather than thinking independently, and want their broker to hold their hand. They always look for someone else to blame for their failures. Self sabotage spoils their chances of success. They may feel more comfortable staying on the same financial plane as their colleagues and friends.

Trading, with winning and losing a daily occurrence, quickly reveals your true character and exposes the limitations of your thinking. Make developing a winning mindset your highest priority.

Managing risk

There's an trading saying "There are old traders and there and bold traders, but there are few old, bold traders". Winning traders manage risk, losing traders don't.

A winning trader will limit their risk on each trade, use a model with a positive expectancy (long run positive return) and carefully manage capital. They are careful to diversify their risk, for example, by not opening positions that tend to be highly correlated.

In contrast, a losing trader will overtrade by taking positions too large for their capital, refuse to use stop losses and not use a tested and profitable trading system, often using "seat of the pants trading".

Using a system

Most winning traders have a working system. Not only that, they stick to their system, and have confidence in it, refusing to second guess it.

Losing traders either don't have a system, don't have a system that works, or don't have any confidence in their system and constantly override it, or stop using it after a few losses. Sometimes, they will spend $79.95 and buy a system cobbled together by someone else in the vain hope that it will be a short cut to riches without need for any personal effort. Of course, that is rarely successful.

Successful traders don't just buy a system and hope that it will work. They develop a system that reflects their own views of the market and risk tolerance, and extensively back test it themselves. This gives the winning trader a lot of confidence about the performance of the system under various market conditions.

A final note

Winning traders have an an exciting opportunity to build substantial wealth. To be one, you need a systematic approach to trading, typically by developing your own system. There are no short cuts to success, so you will need to read widely and critically, and work on your trading psychology.

We wish you successful trading.



Forex “Naked Trading”

If you hadn’t stayed in Forex trading platform for long and come across a Forex term of “naked trading” it’s for sure that it will be a big astonishment for you and your usual response will be “What”?

Is it possible to earn more by putting off the clothes? No, it’s not so it’s just a Forex term you don’t need to put off your clothes.

This means to the Forex indicators that is you should be well aware about the indicators status. By the term we mean that its always good to take full information about the trade market and analyze the influential factors of the Forex trading.

You must eradicate all the well-painted images of the market as portrayed by the indicators and put before you to attract your attraction and go through the true image of the trading position in the market.

This can be done by examining the price actions of various currencies of the world at the trading platform.

This also indicate that you remove the broker from the trading process and thereby see the crystal image of the trading buying and selling positions of the Forex market not just whatever they intended to show you.

The term “naked trading” means revealing the truth of the indicators that they really want to convey about the Forex trends and market situations.

The brokers and other traders say whatever they find it correct to spread among those who are unaware about the facts of the Forex trading.

This is good to examine and understand the Forex trading indicators by yourself and fetch the conclusions rationally without being influenced by any other opinions.

From the next time whenever you start to trade, take time to consider that whatever Forex examining indicators you are using are revealing the dependable information that will help you out to trade in the market.

It’s just a simple rule to overcome the trading hurdles lying before you while making trading decisions.

The article explains the meaning of the Forex term “naked trading”. This means revealing the concealed buying and selling options of the market by examining the trading indicators.

by: Avelin

IHSG Ditutup Makin Melesat

Perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) terus mengalami kemajuan. Setelah terpuruk pada perdagangan kemarin, kali ini IHSG langsung melesat kencang.

IHSG perdagangan Jumat (23/10/2009) ditutup meningkat 34,77 poin atau setara 1,43 persen ke posisi 2.467,95. Volume perdagangan terpantau sebesar 4,71 miliar lembar saham senilai Rp3,56 triliun.

Indeks LQ45 naik 7,92 poin ke posisi 485,1 dan Jakarta Islamic Indeks (JII) meningkat 7,01 poin ke posisi 402,01. Terpantau 142 saham menguat, 46 saham melemah, dan 68 saham stagnan.

Penguatan IHSG kali ini ditopang oleh hijaunya saham-saham dari berbagai sektor, yang dipimpin dari sektor pertambangan sebesar 53,18 poin.

Saham-saham yang ditutup melemah atau top loser, antara lain PT Excelcomindo Pratama Tbk (EXCL) melemah Rp150 ke Rp1.800, PT Smart Tbk (SMAR) terkoreksi Rp100 ke posisi Rp3.300, PT Indosat Tbk (ISAT) turun Rp50 menjadi Rp5.500, dan PT Bisi International Tbk (BISI) turun Rp40 ke posisi Rp1.800.

Saham-saham yang ditutup menguat atau top gainer, antara lain PT Astra International Tbk (ASII) menguat Rp1.300 ke level Rp32.650, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menguat Rp250 ke posisi Rp22.000, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik Rp250 ke Rp14.950, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) naik Rp200 menjadi Rp15.900. (ade)

Menebak Arah IHSG Hingga Akhir Tahun

Penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal Januari 2009 membuat para pelaku pasar optimistis pemulihan (recovery) ekonomi telah terjadi secara global, terutama perekonomian Amerika Serikat (AS) yang menjadi acuan. Hingga awal Oktober 2009, IHSG telah menguat 81,20 persen ke level 2.467.

Kenaikan IHSG terimbas dari penguatan bursa global yang dipimpin indeks Dow Jones, yang pada periode sama menguat 12,40 persen. Bursa utama di kawasan regional juga mendukung penguatan IHSG seperti bursa India yang menguat 76,49 persen , China 58,97 persen, Singapura 52,17 persen , Hong Kong 48,04 persen ,dan Jepang 12,12 persen . Kenaikan yang terjadi pada bursa global disebabkan beberapa sentimen positif dari kebijakan yang akan dilakukan Pemerintah AS maupun The Fed seperti bailout, pengurangan pajak, dan pembelian aset bermasalah.

Kebijakan tersebut diikuti pula oleh hampir seluruh negara di dunia. Seluruh bank sentral dari sisi moneter bersepakat menurunkan tingkat suku bunganya untuk menciptakan likuiditas yang hilang ketika krisis 2008. Kebijakan fiskal juga melakukan pemotongan pajak dan pembangunan infrastruktur yang diharapkan menjadi stimulus ekonomi. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral dan pemerintah tersebut direspons oleh pasar karena diekspektasi dapat segera memulihkan perekonomian.

Para investor melakukan pembelian sehingga harga-harga saham mengalami kenaikan hingga Oktober 2009. Proses pemulihan dimulai ketika Pemerintah AS melakukan stimulus ekonomi sebesar USD787 miliar untuk membeli surat-surat berharga sekaligus menciptakan likuiditas di pasar dengan harapan terciptanya purchasing power dan ekonomi segera pulih. Stimulus yang diberikan membuat defisit anggaran AS mencapai level tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Namun, bulan lalu The Fed menyatakan akan mengakhiri pembelian secara agresif suratsurat berharga akibat tidak efektifnya stimulus yang dilakukan.

Hal ini tercermin dari semakin tingginya angka pengangguran dan tidak berubahnya beberapa indikator ekonomi di AS ke arah yang lebih baik. Likuiditas yang tercipta bukan menjadi stimulus bagi sektor riil seperti yang diharapkan, melainkan lebih ke arah spekulasi komoditas dan pasar modal. Kebijakan The Fed yang membatasi pembelian surat berharga tersebut dapat berdampak terhadap tekanan inflasi akibat besarnya defisit dan pengeluaran konsumsi.

Akhirnya itu menaikkan tingkat suku bunga The Fed yang selama ini bertahan di level 0,25 persen sejak Desember 2008. Dari dalam negeri, perekonomian relatif masih stabil yang dapat dilihat dari beberapa indikator purchasing power dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang masih positif sebesar 4, 2persesampai semester I/2009.Pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap sebagai penopang perekonomian global yang sedang menurun.

Stimulus ekonomi dari sisi moneter maupun fiskal juga dilakukan. Bank Indonesia terus memangkas tingkat suku bunganya hingga 6,5 persen , turun 300 basis poin dari level tertinggi 9,5 persen pada November 2008. Penurunan suku bunga terjadi seiring rendahnya tingkat inflasi dibandingkan tahun lalu akibat kenaikan harga BBM yang dipicu menguatnya harga minyak dunia ke level USD150 per barel. Perekonomian yang relatif stabil dan suksesnya pemilu membuat IHSG mengalami penguatan tertinggi di antara bursa global.

Pergerakan IHSG hingga akhir tahun pastinya ditentukan baik faktor internal dan eksternal. Faktor internal atau dalam negeri dapat diperkirakan relatif stabil hingga akhir tahun meskipun tingkat inflasi sudah berbalik arah dari posisi terendahnya 2,71 persen (year on year/yoy) pada Juli menjadi 2.83 persen pada September. Merambat naiknya inflasi tak lepas dari kenaikan harga barang ketika Lebaran dan tarif tol.Namun,inflasi dalam negeri relatif tidak mengkhawatirkan karena tingkat suku bunga riil masih positif yang disebabkan BI Rate masih 6,5 persen .

Kondisi eksternal justru masih menjadi faktor yang mengkhawatirkan. Secara sederhana, ini bisa dilihat dari kejadian tahun lalu ketika ekonomi tumbuh 6 persen .Kuatnya pertumbuhan domestik saat itu tak mampu meredam kejatuhan IHSG sebesar 50 persen akibat gejolak yang terjadi di bursa global. Ini terjadi karena masih besarnya porsi investor asing di bursa Indonesia. Bila tingkat inflasi di AS sudah mulai merambat naik akibat tingginya harga komoditas dan pengeluaran konsumsi, The Fed diperkirakan akan segera menaikkan tingkat suku bunganya yang selama ini dipertahankan di level 0,25 persen .

Bank Sentral Australia merupakan bank sentral pertama yang menaikkan suku bunganya sebesar 0,25 persen menjadi 3.25 persen akibat kenaikan inflasi dan kekhawatiran terjadinya carry trade.Kenaikan tingkat suku bunga tersebut pastinya akan berdampak negatif bagi pergerakan bursa.

Bila The Fed tetap mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun, IHSG diperkirakan bergerak mendatar (sideways) dengan rentang 2.400-2.600. Namun, bila The Fed menaikkan tingkat suku bunganya, sudah cukup bagus jika IHSG masih berada di atas level 2.000. (*)

Pardomuan Sihombing
Head of Research Paramitra Alfa Sekuritas
(Koran SI/Koran SI/rhs)

Bakrie Brothers Beli Saham BUMI Rp551,2 M

JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mengungkapkan jika pihaknya telah melakukan pembelian kembali saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebanyak 324.218.115 saham atau setara dengan Rp551,2 miliar.

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur dan Corsec BNBR RA Sri Dharmayanti dalam laporannya di keterbukaan informasi BEI, Jakarta, Selasa (13/10/2009).

"Sejumlah 324.218.115 saham atau senilai dengan Rp551,2 miliar telah kembali berada dalam penguasaan perseroan," katanya.

Dia menjelaskan, perseroan memiliki hak membeli kembali (right to exercise call) sejumlah saham BUMI, yang berada dalam penguasaan anak perusahaan Ancora Group.

"Pada 8 Oktober 2009, perseroan dan anak perusahaan Ancora Group telah menandatangani implementatition agreement for the sale and purchase of shares of BUMI, guna melakukan pengambialaihan kembali saham BUMI darui anak perusahaan Ancora Group," jelasnya. (ade)

Bakrie Brothers Ambil Alih Saham ELTY di Avenue

JAKARTA - PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR) telah mengambilalih kembali saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) sebanyak 1.270.835.000 dengan harga Rp165 per saham atau senilai Rp209.687.775.000.

Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur & Corporate Secretary BNBR RA SRI Dharmayanti dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Sabtu (17/10/2009).

Adapun dengan pengambilalihan kembali saham ELTY ini, maka presentase kepemilikan saham perseroan meningkat sebesar 6,4 persen menjadi 20,9 persen dari sebelumnya yang hanya 14,5 persen.

Pengambilalihan ini dilakukan menindaklanjuti keterbukaan informasi perseroan yang menginformasikan bahwa BNBR memiliki hak membeli kembali sejumlah saham ELTY milik perseroan yang berada dalam penguasaan Avenue Luxembourg SARL (Avenue), di mana perusahaan itu didirikan berdasarkan hukum negara Luxembourg. (ade)

Rupiah Bakal Tembus Rp9.150/USD


BOGOR - Rupiah diprediksi bakal menguat terhadap dolar Amerika akhir tahun ini. Rupiah bakal menembus batas Rp9.200-Rp9.150 per USD.

Perbaikan sektor perbankan dalam negeri berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Apalagi, investor asing berpeluang menanamkan kembali investasinya di Indonesia.

"Kurs rupiah (bakal) menguat karena potensi masuknya asing pada akhir 2009 yang bisa menyentuh level Rp9.200-Rp9.150 per USD, begitu juga di awal 2010," kata analis Reliance Securities Gina Novrina Nasution, saat ditemui okezone, dalam acara bertajuk ORI untuk BUMI, di Bogor, Jumat (16/10/2009).

Selain itu, perbaikan ekonomi, pelemahan nilai tukar mata uang dolar Amerika, dan faktor pemilihan umum dan presiden yang aman ikut memberikan sentimen positif. "Net foreign buying pada Juni (memang) mencapai Rp7 miliar," ujar dia.

Dia melanjutkan, kepemilikan asing diperkirakan meningkat pada instrumen surat utang negara (SUN). Sementara itu, imbal hasil (yield) SUN kini membaik menjadi 10,5 persen. (ade)

Indofood Sukses Makmur Tambah 7,8% Saham di ISP

JAKARTA - PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Indosentra Pelangi (ISP) sebesar 3.900 lembar saham atau setara dengan 7,8 persen dari jumlah seluruh saham yang dikeluarkan ISP.

Hal ini diungkapkan Direktur & Corporate Secretary INDF Werianty Setiawan, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Sabtu (17/10/2009).

Adapun harga pembelian saham yang disepakati senilai Rp18 miliar yang diambil dari dana internal perseroan. Dengan demikian, total kepemilikan saham perseroan di ISP saat ini meningkat dari 92,2 persen menjadi 100 persen.

Dia menambahkan bahwa transaksi ini bukan merupakan transaksi material sebagaimana termaksud dalam peraturan Bapepam Nomor IX.E.2 per 20 Februari 2001 dan bukan transaksi yang mengandung benturan kepentingan sebagaimana termaksud dalam peraturan ketua Bapepam Nomor IX.E.1 per 12 Desember 2008. (ade)

Bursa China Membaik, Dow Jones Melesat 70 Poin

NEW YORK - Indeks Dow Jones berhasil naik 70 poin, pada perdagangan Kamis (20/8/2009) waktu setempat, seiring optimistisnya sejumlah investor terhadap pemulihan ekonomi ditandai dengan penguatan indeks perdagangan bursa di China kemarin. Para investor di Wall Street pun kembali bertransaksi di pasar modal, kendati masih dalam ruang yang terbatas.

Tiga indeks utama AS ditutup dengan volume yang minim. Tidak adanya laporan kinerja yang menggigit menjadi salah satu faktornya, namun sentimen positif lain telah mendorong para investor untuk kembali bertransaksi dengan giat. Sektor keuangan adalah yang paling diminati usai CEO American International Group Inc mengatakan pihaknya akan membayar kembali dana bantuan yang diberikan pemerintah.

Sedangkan, Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan klaim atas keuntungan pengangguran kembali naik menjadi 576 ribu untuk pekan yang berakhir 15 Agustus. Sebelumnya, sejumlah analis memperkirakan angka klaim hanya 550 ribu saja.

"Faktanya bahwa klaim pengangguran yang lebih penting dimanipulasi dari data manufaktur dan menguatnya pasar saham di China. Hal tersebut menunjukkan seberapa besar optimisme ada di pasar," ujar analis senior dari Lind-Waldock Dan Faretta, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (21/8/2009).

Hingga akhir perdagangan, indeks Dow Jones naik 70,89 poin atau setara 0,8 persen ke 9.350,05. Sedangkan, indeks S&P 500 juga melonjak 10,91 poin atau setara 1,09 persen menjadi 1.007,37, dan indeks Nasdaq naik 19,98 poin atau setara 1,01 persen ke posisi 1.989,22.(css)

Jum'at, 21 Agustus 2009 - 07:52 wib (Candra Setya Santoso)

Dow Jones Capai Level Tertinggi Tahun Ini

NEW YORK - Ketiga indeks utama di bursa Wall Street ditutup naik tipis, termasuk Dow Jones yang naik 37 poin. Ini merupakan kenaikan beruntun yang menimbulkan level tertinggi baru tahun ini dan terus mengalami kenaikan selama delapan hari, rally panjang terjadi sejak April 2007, pada perdagangan Kamis (27/8/2009) waktu setempat.

Penguatan terjadi seiring laporan kinerja sektor keuangan dan industri yang membaik dan melebihi ekspektasi sejumlah analis.

Gain yang tinggi pada sektor keuangan dan energi mendongkrak indeks. Sektor energi terepicu oleh naiknya harga minyak. Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan, klaim insentif pengangguran turun 10 ribu pada pekan lalu menjadi 570 ribu, membuat malu para ekonom, pasalnya penurunan tersebut jauh di bawah ekspektasi ekonom. Level tersebut adalah yang terendah sejak April.

Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan perekonomian menyusut 1 persen secara tahunan pada kuartal II ini. GDP tersebut sedikit di bawah ekspektasi yang sebesar 1,5 persen.

Data ekonomi yang dipublikasikan, termasuk insentif pengangguran dan dibacakannya tingkat produk domestik bruto memberi sentimen positif bagi para investor. Para analis mengatakan pasar telah bergerak pada momentumnya sendiri, dipicu oleh sentimen positif dari data-data ekonomi yang terwakili pada harga saham. "Terlalu banyak dana tunai yang berada di 'sisi'," ujar Chief Equity Market Strategist Federated Investors Phil Orlando, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (28/8/2009).

Sentiment tersebut membawa indeks Dow Jones menguat 37,11 poin atau setara 0,4 persen ke level 9.580,63. Indeks S&P 500 melonjak 2,86 poin atau setara 0,3 persen ke 1.030,98 dan indeks Nasdaq naik 3,3 poin atau setara 0,2 persen menjadi 2.027,73. (css)
Jum'at, 28 Agustus 2009 - 07:54 wib (Candra Setya Santoso)

Harga Minyak Melaju Ke USD72

NEW YORK - Harga minyak mentah dunia berhasil rebound di kisaran level USD72 per barel, pada perdagangan Kamis (27/8/2009) waktu setempat, seiring pelemahan harga minyak yang terjadi selama dua hari terakhir. Sementara itu, melemahnya nilai tukar dolar Amerika, menjadi sentimen lainnya dalam penguatan harga minyak kemarin.

Seperti dilansir dari AFP, Jumat (28/8/2009), harga minyak untuk kontrak Oktober berdasar New York Mercantile Exchange, naik USD1,06 menjadi USD72,49 per barel. Sementara di London, harga minyak mentah jenis Brent North Sea untuk kontrak Oktober naik 86 sen dolar Amerika menjadi USD72,51 per barel.

Sebelumnya, harga minyak diperdagangkan murah beberapa hari terakhir, namun kembali merangkak naik pada perdagangan kemarin. "Pada sisi lain dipicu kenaikan indeks dan sisi lain ditunjang pelemahan nilai tukar dolar AS," ujar analis PFG Best Research Phill Flynn.

Departemen Energi AS mengumumkan pada Rabu lalu, jumlah cadangan minyak naik 200 ribu barel menjadi 343,8 juta pada 21 Agustus 2009. Ini melawan ekspektasi yang dipatok sebesar 600 ribu barel. Sementara itu, lemahnya nilai tukar tersebut membuat harga minyak murah sehingga para investor pun tertarik untuk berinvestasi di minyak. (css)
Candra Setya Santoso Jum'at, 28 Agustus 2009 - 07:37 wib